
Cerita Dua Jendela
“Untukmu yang hatinya
berkawan karib dengan jarak
temu dan doa waktu.”
“Lucu banget, sih, dulu traumanya apa, Kak? Gava, ya?”
Matahari sore saja belum tenggelam dengan sempurna; belum juga benda warna perak berengsel dipangkuannya ditutup oleh Rona, akan tetapi sudah dibuat kesal saja gadis itu karena membaca cuitan Bhaiq alias Bhai Kaba di portal lini masa. Padahal gadis Anucara itu hanya iseng meng-utarakan kekesalannya di Twitter karena… oh astaga! Siapa, sih, yang kemarin bilang kalau hidup akan menyenangkan setelah lulus SMA?
Kenapa hal sekecil ini harus berbohong segala?
“Mbel-ge-des!” decak Rona, sembari jemarinya mengetik dengan ejaan untuk membalas cuitan dari Bhai Kaba.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya selepas meregangkan kedua tangan ke udara, benda pipih dipangkuan itu Rona tutup juga. Sekilas ia mengintip semburat dari jendela, ada sinar jingga yang sudah benar-benar melukis wajah langit di sana. Tadinya gadis kelahiran Bandung tersebut ingin beranjak dari kasurnya, akan tetapi baru sedikit meng-gerakkan badan saja sudah ditahan oleh suara dering dari ponsel milik dia.
Ada nama Ribi dipanggilan masuk.
“Kenapa?!” ketus Rona, selepas menempelkan benda tipis tersebut ke sisi bagian kanan telinga.
“Salam dulu kek, ini langsung dijudesin.”
“Gara-gara cowok lo noh,” lontar Rona, sembari melihat ke plafon kamarnya, tubuh itu pada akhirnya ia baringkan di atas ranjang warna putih tua. “Kambing emang cowok lo itu!”
“Cowok gue, who?” Suara berbisik mulai terdengar dari sambungan telepon. “Kim Mingyu maksud lo?”
“Mbah Dukun paling juga udah nyerah kalau gue suruh buat nyantet lo.”
Ada bunyi tawa yang begitu ringan terdengar dari ujung panggilan ponsel Rona. Semakin dibuat kesal saja perasaan gadis Anucara.
Sialan!
“Tenang. Ini tersangkanya udah dipiting sama Gava.” Ribi langsung melanjutkan perkataannya, karena gadis dengan nama Janari Ayu Ribi Adinata tersebut tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi Rona.
“Lo emang lagi di Trinken?”
“Yap, ini gue baru nemenin Bhaiq balikin iPhonenya Gava yang ketinggalan,” papar Ribi di sela-sela menanggapi per-tanyaan orang yang sedang mencari lokasi toilet di Trinken—sebuah kedai kopi milik keluarga Gava, yang juga sebagai markas besar dari beberapa perkumpulan anak cowok SMA Navagraha. “Sori tadi ada yang nyela, tapi ngomong-ngomong kenapa kalau gue di Trinken? Mau titip salam?”
“Gak!”
“Galak amat sih, Bu?” Tentu saja langsung diikuti suara ke-kehan Ribi untuk menggoda Rona. “Kayak baru diputusin minggu lalu aja.”
“Emang bener kata Mama, mending gue sekarang mandi lalu siap-siap otw gereja, terus minta pengampunan yang banyak daripada nerusin ngobrol sama lo… ujungnya gue juga yang makin nambah dosa.”
“Tumben jadi rajin gereja?”
“Kampret!”
“Lagi naksir cowok mana lagi ini, sampai jadi rajin gereja begini?” tanya Ribi, atau lebih tepatnya sedang meledek kembali. “Beda agama lagi?”
“Lambemu!”
“Hahahaha….” Tentu saja di seberang sambungan telepon,
dengan suara bervolume maksimal sudah menggema seantero ruang di Trinken dari bibir Ribi. Gadis itu memang ahli kalau membuat Rona kesal dan naik tensi. “Ya udah sana buruan mandi terus lanjut gereja. Siapa tahu dapet yang seiman lagi kali ini.”
“Berak! Terus niat lo nelpon gue ngapain?”
“Ngeledek lo doang, sih, siapa tahu belum move on.”
“Babi!”
Di saat sambungan telepon itu sudah diputus oleh Rona, lagi-lagi dari tempat Ribi berada, ia sudah menggemakan suara tawa. Sedangkan dipijakan yang lainnya, di atas kasur yang nyaman gadis Anucara itu lantas memijat pelipisnya. Semakin kurang ajar saja temannya itu kalau dirasa.
Dapat ide dari mana pula itu manusia, bisa-bisanya punya pemikiran kalau rajin gereja sama dengan sedang menaksir cowok beda agama?
Gendeng!
Kepala itu langsung Rona gelengkan. Berniat untuk mengusir niat ibadahnya yang berubah jadi berantakan. Namun, baru juga badan itu ia dudukan lagi di atas kasurnya, tiba-tiba satu notifikasi Instagram langsung mencuri atensi netra.
La Naskara Na Lémba added to their story.
“Dang, God made him extra fine! Kenapa dia jadi tambah cakep, Ya Tuhan?!”
Satu kalimat mantra itu langsung lolos dengan mudah dari bibir gadis Anucara, lebih tepatnya ketika ibu jemari Rona tanpa sadar segera menekan dan melihat unggahan foto sang pemuda. Sampai beberapa detik selepasnya, ponsel Rona lepas dari genggaman sewaktu dua pesan masuk tiba-tiba mengetuk akun Instagramnya.
Na Lémba: Fastest fingers in the west, hm?
Na Lémba: Rona Anucara, lo senaksir itukah sama gue?
Pada senja bersemburat merah bata yang mulai hilang dari angkasa, sang gadis penyuka matcha tengah menggali lubang kebodohannya.
“Mampus!”
**
“Jika saja Istiqlal dan Katedral diberi nyawa. Siapa yang bisa menjamim jika mereka tak jatuh cinta?”
Ada getaran aneh yang mengetuk dalam sukma.
Dari bibir jalanan pingir kota, gadis Anucara itu melukis sabit ironis selepas melihat video TikTok di lini masa. Lucunya, hanya sebuah video sejeda, tetapi mampu membuat hati gadis itu serasa tengah dipanah oleh busur milik Hiawatha.
Apakah malam ini Rona tengah bersua dengan hari buruk lagi, atau barangkali, tidak ada hari buruk di bumi, hanya prasangka tak baik yang sering kali menghampiri?
“Sudah tahu berbeda, sudah tahu jalan ceritanya akan berakhir bagaimana, kenapa juga masih mau mencoba untuk bersama; untuk mendapat sebuah kecewa? Lucu juga ini kisah manusia,” gerutu Rona, selepes menyelesaikan video pendek di layar ponselnya. “Tapi lebih jenakanya, gue salah satu manusia itu yang dulu lupa harus berkaca.”
Di antara gumaman dan ributnya isi kepala gadis dengan sepatu putih tua. Sebuah kendaraan SUV hitam yang merek dagangnya berkantor pusat di München, Jerman, tiba-tiba menepi dan berhenti di bibir jalan raya didekat Rona.
“Ona?”
Panggilan tersebut seperti memberi jeda cukup lama di dalam ruang dan waktu saat itu juga. Gadis kelahiran Bandung tersebut cukup terkesiap sambil beberapa kali mengerjapkan kelopak mata, memastikan bahwa manusia di depannya ini bukan delusinya semata.
“Kenapa dm gue tadi nggak lo bales?”
Pyar!
Seperti lusinan piring yang terjatuh dari meja.
Bubar sudah lamunan Rona.
“Hehehe, lupa.”
“Really?” Nadanya benar-benar tengah meledek.
Sepulas senyuman bodoh langsung Rona tampilkan di air muka. Mana ada cerita gadis itu lupa, yang benar aja! Bahkan tadi ketika berangkat gereja saja, gadis itu hampir salah turun halte gara-gara memikirkan jawaban apa yang cocok untuk membalas pesan masuk dari sang pemuda.
Ya kali masa harus gue jawab, iya nih udah naksir dari zaman mesozoikum, Mas!
Bisa mati berdiri gadis itu nanti.
“Halooo, Cantik?”
“Hah?” celetuk Rona, seraya melepas AirPods dari telinga.
“Kenapa malah jadi bengong?”
“Oh, hehe… masih agak kaget aja.” Gigi yang berbaris rapi itu sudah tertampil di bibir Rona. “Kirain tadi pas di gereja gue salah lihat. Masa, sih? Bukannya Mas Nale harusnya masih di Cambridge, ya? Kok udah di Jakarta aja?”
“Loh ini kan gue bela-belain balik cuma mau ketemu lo.”
“Telek!”
“Hahaha, masih lucu aja kalau lo lagi salah tingkah gini.”
Pemuda di dalam kendaraan itu pun sudah melukis tipis tawa renyahnya. “Sini masuk, gue anterin.”
“Anterin ke mana?”
“Ya kalau ke pelaminan kan kita belum cukup dewasa, ya? Jadi sementara gue anterin pulang dulu aja.”
Aduh semesta!
Seandainya kalau saat ini Rona tengah berada di stepa, sudah ia teriakan begitu lantang suaranya. Bisa-bisanya pemuda satu ini malah menggoda anak orang yang sedang pusing mau lanjut sekolah tinggi di mana.
“Ayo gue anterin!” ulang Na Lémba.
“Yah apa-apaan nih. Udah terlanjur pesen Gojek, eh baru nyamperin, telat ah!” jawab gadis Anucara, menahan segala guncangan perasaan yang ada. Pemuda di dalam mobil itu justru mengulum senyuman ketika melihat tingkah Rona.
“Oh… jadi tadi lo berharapnya gue samperin cepet, ya?”
“Gak!”
“Masa, sih?”
“Gue bilang enggak, ya!”
“Hahaha you really are that funny, but sori ya kalau gue telat,” tutur sang pemuda. Tetapi mohon maaf sebelumnya, telat di sini maksudnya apa, ya? Karena di kepala Rona ada dua persepsi yang berbeda. Kedatangan atau perasaan? “Tadi habis ngobrol bentar sama teman lama, jadi baru bisa keluar sekarang. Padahal tadi mau nyamperin lo dulu waktu di dalem yang udah kayak anak ilang.”
“Dih, kagak ye! Masa udah cakep gini kayak anak ilang?”
“Ya udah enggak, masa cantik begini kayak anak ilang kan nggak mungkin juga.” Sudah cukup ya hari ini Rona mendapatkan dosis dopamin. Bisa-bisanya dipanggil cantik dua kali bahkan sampai membuat hatinya terbang bagai balon helium ditiup embusan angin. “Sekarang malah senyum-senyum. Ini beneran nggak mau gue anterin pulang?”
Maulah! Rezeki nomplok begini mana boleh ditolak!
“Lain kali aja ya, Mas?”
Memang bodoh kamu ini Rona. Berdusta sajalah semau hati kamu wahai Anucara!
“Yah gue jadi sedih nih,” decak pemuda Na Lémba, dengan muka cemberutnya di air muka.
“Plis! Itu muka lucunya bisa disimpan aja nggak, sih? Kan gue jadi takut kalau tiba-tiba ada yang marah habis dilihatin muka lucunya Mas Nale.”
“Emang siapa yang marah?”
“Oh udah putus, ya?”
“Busted!”
Tak pelak suara tawa itu tiba-tiba langsung meluncur dari bibir Rona, pertanda baikkah untuk dia wahai dunia? Atau hanya sebatas harapan berujung kecewa saja?
“Udah ketawa manisnya?”
“Diem nggak!”
“Hahaha…. Ini beneran nggak mau gue anterin?”
Rona kembali menggelengkan kepala. “Siapa, sih, yang nggak mau dianterin gratis, apalagi yang nganterin secakep ini orangnya?” Giliran Rona yang menembakan bola api itu, tepat mengenai orang di depan dia. “Tapi nanti kasihan Bapaknya udah jauh-jauh mau sampai ke sini, lalu tiba-tiba gue batalin sepihak. Jadi lain kali aja ya, Mas?”
Sepulas sabit tipis itu langsung terlukis dari bibir Na Lémba. Entah ini sekadar firasat Rona atau hanya prasangka baiknya, tetapi selukis senyuman itu benar-benar menyaratkan sesuatu yang tak bisa diucapkan oleh kata.
“Ya udah, lain kali aja kalau gitu, tapi minimal sebelum gue balik ke Cambridge, bolehlah dibalas dulu dm gue tadi.”
“Ah, nggak asik, dibahas mulu! Kan gue jadi malu ini!”
“Hahahaha….”
Tiba-tiba suara klakson dari truk bermuatan di belakang menginterupsi percakapan mereka, lantas membuat kedua manusia itu akhirnya menolehkan kepala. Lupa, kalau mereka sedang berbincang di tepi jalan raya. Yang ternyata cukup mengganggu lalu-lalang pengendara lainnya.
“Kalau gitu gue balik duluan, ya?” Dari dalam kendaraan, Na Lémba—salah satu dari teman gereja Rona dari bangku menengah pertama, lebih tepatnya juga sampai menjadi kakak kelas dia sewaktu masih di SMA Navagraha—sudah melambaikan satu tangan dan berseru pelan sebelum pergi meninggalkan. “Bye-bye, Ona!”
Sialan!
Rasanya tubuh gadis itu melemas seketika, persis seperti raga yang kekurangan zat besi aja begitu nama kecilnya disebutkan. Memang ya pesona dari mantan ketua OSIS Asta Na Rakça satu itu tidak bisa dibantahkan. Masih seperti dulu ketika pertama kali Rona dipertemukan.
Ya siapa juga gadis di luar sana yang nggak naskir seorang La Naskara Na Lémba? Sudah pintar anaknya, supel, dermawan, rupawan—gadis itu langsung menggelengkan kepala, membuang semua imajinasi indahnya semenjak zaman SMP yang ada di ruang kepala.
Hampir saja dia keterusan.
Bisa membahayakan hati nanti, mana dahulu gadis itu pernah membuat pengakuan di selembar kertas lagi. Untung saja surat rahasia itu tidak sempat sampai di tangan sang pemuda. Ingat Rona, dia sebatas cinta pertama yang akan tetap indah bila dikenang di perasaan dan kepala.
Lagi-lagi Rona lantas menghela napas panjang.
Kini yang bisa gadis itu lakukan sesekali menolehkan pandangan ke sekitarnya. Sekilas kalau diamati dengan sak-sama, ternyata tidak buruk juga mencoba datang sendiri ke ibadah pemuda. Padahal biasanya gadis dengan jamsuit hitam dibalut jaket dengan warna senada itu selalu ikut sang mama ibadah di waktu pagi, tapi karena dari hari Jum’at kemarin mamanya baru pergi, jadilah gadis itu berangkat gereja di malam hari.
Dan ya, seperti namanya… ibadah pemuda, banyak sekali anak-anak muda di sini yang datang untuk berdoa dan sukacita—pun meminta pengampunan dosa, atau sekadar mohon dipertemukan dengan takdirnya.
Dari sisi lajur didekatnya, tiba-tiba sebuah benda abu-abu beroda empat mengkilap lagi-lagi berhenti di depan Rona. Siapa lagi ini astaga? Dibuat bertanya kepala gadis Anucara, akan tetapi sepertinya Rona tidak asing pada mobil berlogo perisai dengan lambang kuda dan nama Kota Stuttgart ini di depan dia.
Kayak mobil yang sering dibawa Ga—
“Ngapain masih bengong di situ? Ayo, masuk! Gue anterin lo pulang,” perintah sang pemuda, begitu kaca mobil itu ia turunkan seketika.
“Heol? Ini juga, lo ngapain bisa ada di sini, Gav?”
“Sama kayak lo tadi.”
“Hah?” Gadis dengan rambut hitam digerai itu pun langsung melihat bangunan Neo-Gothic di depan yang ada di seberang jalan ini, tempat di mana ia beribadah tadi, baru selepasnya Rona kembali menoleh ke arah sang pemuda lagi. “Habis ibadah juga? Sejak kapan lo jadi rajin gereja? Kok gue nggak sempat lihat lo tadi?”
“Lo aja kali sibuk ngelihatin yang lain.”
“Sok tahu!”
Gava pulas sedikit senyuman di sudut wajah. “Mau pulang, kan? Ayo gue anterin sekalian.”
Ini manusia juga. Kenapa orang-orang jadi pada rajin menawarkan tumpangan walaupun terlambat cukup lama? Apa ini salah satu berkat dari memperbaiki ibadah kita?
“Nggak usah anjir,” jawab Rona.
“Lo males ya kalau dianterin pulang sama mantan?”
Sial! Dia membawa satu kata ajaib itu lagi.
“Nggak gitu konsepnya! Rezeki mah gue nggak nolak, masalahnya gue udah terlanjur pesen Go—” Tiba-tiba kesatria hijau yang Rona harapkan datang, tepat berhenti di depan mobil milik Gava. “Jek.”
“Neng Rona, ya?” tanya sang bapak berhelm hijau.
“Iya, Pak, saya—”
Belum sempat gadis itu menjawab dengan sempurna pertanyaan bapaknya, Gava lebih dulu menyela percakapan mereka. Bahkan Rona saja sempat bingung sejak kapan manusia jangkung dengan topi hitam di kepala itu keluar dari dalam mobilnya?
“Tugas ngantarnya biar saya aja yang kerjakan, Pak,” sela Gava, pemuda Altares itu justru sudah mengeluarkan dua lembar mata uang berona merah merona dari dompetnya. “Ini gantinya buat, Bapak.”
“Alhamdulillah, rezeki Bapak ini namanya,” lontar sang bapak, lengkap selepas mencium uang pemberian dari Gava. Sedangkan di depannya, pemuda Altares itu justru melukis tawa. Rupaya dengan sekali dayung pun bisa menjadi agenda berbagi oleh Gava. “Makasih banyak lho, Ak. Lain kali kalau jemput pacarnya itu jangan telat, ya. Kasihan.”
“Siap, Pak.”
Siap-siap! Apanya yang siap?! Rona sudah menggerutu dalam batin dan kepala.
“Mari… Bapak duluan ya, Ak, Neng.”
Akhirnya percakapan singkat dua manusia itu selesai di bawah temaram lampu jingga kota. Untung saja selepas pemuda yang datang pertama tadi jalanan langsung lengah tidak seramai sebelumnya. Coba kalau iya, sudah menjadi bulan-bulanan masa seorang Gava karena menghentikan mobilnya lumayan lama. Namun, begitu pemuda Altares ter-sebut memalingkan kepala ke arah Rona, sudah dihadiahi wajah penuh tanya dan cibiran khas ibu-ibu tetangga.
“Emangnya lo dulu gabung sama Bayu Bajra, ya?” sindir Rona, menyilangkan kedua tangan di depan perutnya. “Udah makin mahir aja main sinetronnya.”
“Even if it’s a joke, but thank you so much atas pujiannya,” balas Gava, tangannya seraya memegang pintu mobil sebelah kiri agar terbuka. “Udah, ayo pulang.”
Sambil memasrahkan keadaan, gadis Anucara itu pun masuk ke dalam kendaraan. Tak perlu banyak waktu sampai benda roda empat bertuliskan Macan itu membelah lautan jalanan. Namun, entah ini cuma firasat dari perasaan, gadis delapan belas tahun itu merasa jalan ibu kota malam ini benar-benar jadi terasa cukup lengang.
“Papa gimana kabarnya?” tanya Gava, inisiatif memecah heningnya suasana.
Satu tarikan napas panjang Rona berikan. “It’s good. Ya, seperti kemarin… dan kemarinnya lagi,” papar Rona, sekilas menoleh ke pemuda di sebelah dia. “Papa akhirnya jadi dinas ke Bali, di Korem Wira Satya.”
“Kalau Mama… jadi ikut pindah ke sana juga?”
“Belum tahu kalau itu. Mama pengen nyusul sebenarnya, tapi kan belum bisa karena Mama juga masih ada ikatan dinas di Jakarta. Lagi pula setengah hati Mama itu pengen pergi, tapi setengah hatinya lagi kasihan kalau nanti gue jadi kuliah di Jakarta sendiri.”
Pemuda itu sedikit bergumam kecil. “Em… jadi udah yakin, mau pilih Jakun daripada si Bulldog?”
“Kok lo bisa tah—”
“Dari Mama lo, kemarin Kamis ketemu di daerah Senayan.”
“Pantesan sebelum dinas luar kemarin Mama bilang, ‘Ron, tadi Mama habis ketemu sama siapa itu… yang ganteng terus pernah ke rumah’ ternyata….” Lirikan mata Rona langsung menyipit, seperti sedang menghakimi.
“Ganteng, kan?”
“Iya, ganteng, iya! Nggak bisa gue sangkal juga soalnya,” putus Rona, sedangkan pemuda yang tengah mengemudi itu hanya mengecilkan suara tawa. “Sebenernya gue tuh masih bingung, Gav. Seandainya aja kaki gue nggak bermasalah. Pengen banget rasanya gue ngejar itu sekolah terus ambil double degree sama tari, but I’m throwing in the towel.”
“Jadi beneran udah nyerah?”
“Mungkin?”
“Rona yang gue kenal dua tahun lalu… kayaknya nggak sepesimis gini,” ledek Gava sambil memutar kemudi belok ke arah kiri dari sisi mereka.
“Apaan anjir, jadi bahas dua tahun lalu segala.”
“Kenapa, jadi keinget manisnya?”
“Pret!” cibir Rona. “Yang ada bukannya pahit, ya?”
Pemuda dengan topi itu menolehkan wajah. “Maaf, ya?”
Seperti hujan yang tiba-tiba hilang dari mendungnya wajah angkasa. Kepala Rona langsung menoleh ke arah sang pemuda. Sebentar, sejak kapan pemuda sedingin gunung es antartika ini meminta maaf dengan mudahnya?
Jangan-jangan gadis itu salah dengar tadi?
“Gava?”
“Kenapa?”
“Lo lagi sakit, ya?”
“Enggak.”
“Kok ngigo gini?”
Tak ada jawaban lagi dari sang pemuda, justru tolehan kepala lengkap dengan sabit tipis yang kini jadi jawaban di wajah Gava. Rona yang melihat semakin merasa janggal di benaknya. Dengan refleks telapak tangan gadis itu sudah ia julurkan di kening sang pemuda.
“Ah, pantesan anget!” ejek Rona, balik.
Kalau saja gadis Anucara itu menyentuh kening Gava sekali lagi. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Karena tak tahu saja, apa yang dilakukan Rona barusan mampu membuat pemuda Altares tersebut seketika kehilangan sedikit akal sehatnya.
Untung saja mereka tengah berhenti di lampu merah, tapi sialnya yang dilakukan gadis itu berhasil membuat isi hati seorang Gava malah menjadi gundah. Ada sesuatu yang awalnya masih diselimuti ragu, kini tiba-tiba seketika berubah menjadi yakin yang satu.
Gava pandang begitu lekat kedua manik mata milik gadis di sebelahnya. “Ron—”
“Eh, udah hijau, Gav,” potong Rona.
“Oh?” Mau tidak mau Gava urungkan niatnya dan mulai melanjutkan lagi perjalanan mereka.
Tak terasa, tiga puluh lima menit kendaraan roda empat itu membelah lautan jalan Jakarta, tiba-tiba sudah sampai mereka didekat kediaman gadis Anucara. Kadang sikulsnya memang seperti itu, bukan? Perjalanan akan terasa singkat ketika bersama orang yang mengundang rasa senang.
“Makasih banyak atas tumpangannya ya, Tuan Muda Altares,” ledeknya, seperti biasa ketika ia berbicara dengan Gava. “Hati-hati di jalan pulangnya.”
Gadis itu lantas keluar dari mobil Gava. Akan tetapi ketika langkah itu hendak ingin memasuki pagar rumahnya. Tiba-tiba nama lengkapnya dipanggil satu kali oleh Gava. Yang pertama Rona masih terdiam di tempatnya, hingga pada panggilan kedua gadis itu baru menolehkan raga.
“Gabriela Wiling Rona Anucara.”
Satu persatu kata yang menyusun sebuah nama itu benar-benar terucap kembali setelah sekian lama tak ter-dengar dari bibir seorang Gava. Gadis itu masih terpekur dipijakannya, menunggu pemuda di depan dia untuk melanjutkan kalimatnya.
Sambil menyakukan kedua tangan di celana, Gava yang berdiri di samping mobil lantas bersuara. “Seneng rasanya… seneng, dulu Tuhan pernah menghadirkan lo di hidup gue walau hanya singkat. I’m delighted about it. Makasih, ya?”
Mungkin ini bukan waktunya. Namun seperti kilat yang menyambar tiba-tiba di angkasa. Malam itu ada suara angin yang berdesir lembut di antara tatapan mereka, di antara sebuah cerita di masa lama, sampai akhirnya pemuda Altares itu melukis satu kurva lalu membalikkan raga.
Satu langkah kecil pemuda itu baru saja menapak bumi Batavia. Namun, tubuhnya sudah membeku di sana. Dengan kepalan tangan yang mengerat di udara, akhirnya Gava balikan lagi badannya ke arah Rona.
“Kenapa lagi?” tanya Rona.
“Lo mau nggak ikut ke Semarang?”
“Hah?”
Pemuda Altares itu lantas melepas topi di kepala. Sudah terlihat potongan rambut 3-2-1 di bawah sorot lampu jingga. Rona yang memandang langsung membekap bibir dengan kedua tangannya. “Lo lolos ke seleksi tingkat pusat?” Gava hanya mengulas senyuman kecil di wajahnya. Rona yang tak sadar sudah berlari lalu memeluk tubuh sang pemuda. “Congratulations! Selamat berjuang lebih keras di panpus ya, Pak! Gue ikut seneng dengernya! Pasti lo besok bakalan kangen banget punya rambut yang lebat.”
“Iya, gue bakal kangen.”
“Kan apa gue bilang,” imbuh Rona. “Pasti lo bakal kangen sama rambut panjang lo itu.”
“Tapi gue lebih kangen sama lo,” lirih Gava begitu pelan.
“Hah?”
**
Bagi teman-teman yang sekiranya ingin membaca kelanjutan dari cerita Rona, Gava dan Nalé secara utuh, bisa menekan gambar BUY NOW atau klik pranala E-BOOK di bawah ini.
Pranala: ✦ Beraksara 01: Cerita Dua Jendela
Terima kasih sudah turut andil dalam menjaga keberlangsungan rumah kecil navanera di masa depan supaya terus terjaga.