Perayaan Langit Biru

“Semoga sedihmu yang panjang,
berbiak menjadi langgengnya senyuman
yang gemilang.”

Patah hati lagi setiap bepergian di bulan ketiganya Masehi.

Mungkin tidak banyak orang yang mengalami fenomena aneh satu ini, tetapi aku menjadi salah satu penghuninya dengan penuh kesadaran diri. Manusia yang beranjak di usia seperempat abad ini teramat sulit ketika hendak pergi sendirian. Terdengar lucu di pendengaran, tapi begitulah kenyataan di lapangan. Rasa takut yang menghuni jantung ini selalu menguar kembali semenjak usiaku di angka delapan belas, lebih tepatnya dimulai ketika semester kedua di bangku kelas dua belas.

Niku—si cemen yang demam ketika hendak bepergian sendiri. Mungkin begitulah persepsi orang lain terhadap diriku ini. Seorang anak laki-laki, yang tumbuh bersama ketakutan-nya ketika hendak bepergian jauh sendiri, apalagi ketika di bulan ketiganya Masehi.

Sungguh sebuah kutukan yang aneh, bukan?

Iya, aneh sekali.

Kalian apakah pernah merasakannya, seorang diri dan terjebak dalam sebuah labirin bangunan tua berdinding tebal yang memantulkan denyut gema; yang tentu saja sudah lama tak dihuni oleh pemiliknya? Seperti itulah kira-kira wujud dari ketakutan isi kepala, tepat ketika aku ingin me-lakukan perjalanan cukup jauh sendirian ke luar kota, hingga melintasi batas negara.

Mungkin bagi sebagian orang, melakukan perjalanan adalah kegiatan yang barangkali menyenangkan. Seperti menjadi titik pembuka atas lembar baru dalam kisah hidupnya akan sebuah petualangan. Akan tetapi bagiku yang sebentar lagi bertambah angka satu tahun, semenjak kejadian di masa lalu… perjalanan bermetamorfosa menjadi ketakutan.

Namun, mungkin perlu aku garis bawahi dahulu di sini dengan penafian, tenang ini bukan perihal kekhawatiran seperti yang sedang kalian bayangkan. Karena tersesat di sebuah kawasan, terkena musibah pencopetan, mengalami penculikan, bahkan hal yang paling menakutkanya adalah bertemu pembunuhan—ya walaupun itu juga menjadi salah satu faktor penyebab dari ketakutan ketika melakukan per-jalanan, tetapi ada hal yang lebih membuat ruang didekat jantungku berdegup lebih kencang dari kebiasaan.

Perpisahan.

Tentu saja kalian sudah mengenalnya. Satu kata yang kita tahu bila setiap mula, akan bersua pada lembar terakhirnya. Akan tetapi pernahkah kalian sedikit membayangkan, ketika perjalanan yang seharusnya diisi dengan suasana menyenangkan, tiba-tiba menjadi perpisahan yang tak lagi bisa menemukan kita pada lembar pertemuan?

Sudah kesulitan untuk bepergian sendirian, sudah tidak bisa menemukan lagi pada lembar pertemuan, lalu ada apa gerangan dengan korelasi bulan ketiga yang namanya saja tak bisa kusebutkan?

Mari kuajak kalian untuk bersua dengan koleksi memoriku di kepala. Cerita singkat ini bermula ketika sebuah perjalanan di semester kedua, di bangku terakhir aku SMA.

Jemari itu aku rapatkan di depan dada. Penuh harap dalam benak yang memeluk semua doa, semoga menyenangkan di setiap perjalanan di sana. Sebab perayaaan kali ini sudah kunantikan begitu lama, maka tak hentinya aku merapal lagi dan lagi tentang mantra yang bermuara bahagia, semoga dimudahkan segala urusan yang ada.

Dari jantung kota yang dulu dikenal dengan Batavia, sendirian aku akan menunaikan ibadat sua dari janji dua manusia. Aku berkesempatan untuk mengunjungi teman masa kecilku di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya. Negara di mana kelak aku menggantungkan mimpi besarku di sana, perihal mengejar cita yang begitu kudamba.

Perjalanan ini pun jadi kali pertama aku terbang sendirian melintasi lautan awan, dan doa yang saat itu kuisi dengan segenggam harapan.

Kala itu sebelum aku beranjak pergi selama tiga hari ke Singapura, tak lupa aku berpamitan kepada orang tua dan tentu saja, nenekku yang masih tersisa. Iya, dari empat simbah—sebutan untuk kakek atau nenek dalam keluarga di Jawa—dari kedua orang tua ayah dan ibu, aku hanya tinggal memiliki beliau saja.

Beliau adalah orang yang begitu istimewa di lubuk sukma. Sepanjang aku hidup di dunia, selama lebih dari tiga seperempat usiaku sekarang adalah tumbuh bersamanya. Karena tentu saja, ketika aku masih kecil dan belum mengerti bagaimana dahsyatnya uang bekerja, kedua orang tuaku sudah lebih dahulu menyibukkan diri untuk memperbaiki kehidupan kita. Jadi ketika aku sudah mulai belajar lebih dewasa, sedikit mengerti bagaimana cara kerja dunia, aku selalu memaklumi pilihan mereka.

Bahkan nenek pun pernah berbisik pelan, “Hidup itu tidak selalu berisi hal-hal yang menyenangkan, terkadang ada juga yang direlakan dan perlu diperjuangkan. Begitu pula ketika beberapa orang dewasa membuat pilihan.”

 

**

Bagi teman-teman yang sekiranya ingin membaca kelanjutan dari cerita Niku secara utuh, bisa menekan gambar BUY NOW atau klik pranala E-BOOK di bawah ini.

Pranala: ✦ Beraksara 02: Perayaan Langit Biru

Terima kasih sudah turut andil dalam menjaga keberlangsungan rumah kecil navanera di masa depan supaya terus terjaga.

error: Content is protected !!