Polesan #01 • Senja dan Sedikit Tangisnya

“Kata dia, sejauh apa pun nanti kau pergi berlayar dan bertualang, akan tiba masanya kau kembali lagi untuk sebuah pulang… demi seucap nama milik seseorang, yang pernah tersimpan begitu dalam di relung perasaan.”

Gadis dengan rambut sebahu hitam legam yang kini sudah dikuncir kuda, menapakkan jejak di atas hamparan pasir pesisir sambil tertawa hampa. Walau tawanya kini sedang tak berirama bahagia, apalagi ketika ia mendengar kalimat yang baru saja ia gumamkan dengan sengaja.

Lintang… tetaplah Lintang.

Gadis yang dulu terlalu naif itu bisa percaya pada perkataan tersebut begitu saja. Padahal Lintang jelas tahu adanya, skenario alam raya tak pernah sesederhana yang ia diduga. Semesta dengan permainan rasanya kadang memang sebercanda itu dengan manusia dan kata bernama perasa.

Andai… andai saja dulu Lintang tak menertawakan ucapan konyol tadi. Sore kali ini, ketika semua kenangan perlahan mulai menepi, ketika tiupan sang bayu mulai berdesir dingin menghampiri. Gadis itu tak akan termakan dengan ucapannya sendiri.

Sayangnya, andai adalah satu kata yang kini Lintang benci.

Iya, semesta. Kau memang benar adanya. Gadis yang baru saja genap di angka usia kepala dua, gadis yang kau lahirkan dari segenap rasa cinta dan doa, pun gadis yang kini sudah dua tahun raganya dibawa pergi ke ibu kota, iya, kini ia akhirnya kembali lagi untuk sebuah pulang ke kota ini demi sebuah nama milik seseorang.

Yogyakarta, kau masih saja menjadi kota yang berwajah sama. Ada pulasan tangis sedih dan saputan bahagia di setiap temu dalam cerita.

Apakah memang begini, istimewanya Sang Maha Waktu begitu menyayangimu?

Gadis dengan midi dress berona navy di tepian laut itu akhirnya melepas gelombang tawa kecilnya mendengar kalimat-kalimat ajaib yang berenang di kepala. Hingga akhirnya Lintang tertunduk untuk sejeda. Sepasang kenari cokelat tua tersebut lantas beralih pandang, yang tadinya tengah menatap kosong wajah samudra yang dibiaskan sinar jingga merah bata, kini mulai berpaling ke arah sebuah benda di dalam genggaman tangan kanannya.

Di sana, pada guratan telapak tangan penuh doa. Ada sebuah benda pipih berona perak tua yang beberapa saat lalu sudah Lintang terima dari seorang pemuda; Sebuah benda berwajah agak kusam, dengan balutan rindu nan raya yang begitu dalam.

Untuk keberkian kali. Lagi-lagi lembayung senja kali ini menjadi saksi, di mana ombak Parangtritis dan segala bentuk kenangan hati, akan mendengar ucapannya kembali… sepenggal suara yang telah lama dicuri oleh bumi. Suara dari seorang putra angkasa yang mengajarkan ia perihal jatuh hati… dan kata bernama pergi.

Ibu jari kiri itu mengusap lembut benda digenggaman. Kini, ada banyak sekali keraguan yang mulai berdatangan.

Yogyakarta yang baik, haruskah hari ini Lintang mendengarkan lagi dongeng-dongeng lamanya yang begitu pelik?

Keraguan itu justru semakin muncul di antara perasaan bahagia yang seharusnya ada. Hingga kala bibirnya berkata dusta, tetapi hatinya malah berucap iya. Di situlah hal kecil tak terduga terjadi dalam tatapan nyata. Jemari Lintang justru bergerak pelan di sana, ia usap sekali lagi benda perak agak usang itu penuh rasa, hingga sepasang earphone putih pun lantas ia letakkan pada kedua ujung lubang telinganya.

Semoga yang baik, semoga baik.

Dari satu mantra tarikan napas yang panjang. Dari niat yang sudah ia bulatkan. Tombol putar itu ia tekan meski tangannya sedikit gemetaran. Namun selang waktu setelahnya, yang tadinya hanya terdengar suara deburan ombak berkejaran, kini mulai disambut dengan satu barisan suara milik laki-laki yang selama ini begitu ia rindukan.

Yogyakarta, bersama tiupan bayumu yang menerpa, Lintang titipkan segala keraguan ini agar rindu itu lekas menunaikan temunya.

Teruntuk kamu pun juga dengan saya, yang dulu pernah mengukir kata bernama kita, meski diakhir lembar cerita… kita, yang mungkin tak bisa lagi selalu bersama.

Gadis bintang saya tercinta….

Pada detik pertama, sepasang netra gadis itu lantas terpejam. Ada kumpulan kabut tebal yang kini mulai mengisi di antara kisi-kisi matanya secara perlahan.

Apa kamu mendengar suara saya? Suara… yang saya cipta hanya untuk kamu. Suara di mana hari itu… di antara bayang-bayang dua beringin kembar, dan jingga yang tersaput biru tengah elok-eloknya memandang iri akan dirimu.

Lintang….

Saya tahu, maaf… tidak akan menjadi obat untuk setiap luka yang telah saya perbuat. Namun kamu tahu, Kekasih? Sekuat apa pun saya bertahan, selama apa pun saya mengusahakan, ternyata… kita memang telah tiba pada waktu di mana semesta telah menggariskan.

Sebagaimana kita adalah dua nama yang seharusnya menjadi sebuah cerita, hingga semesta memisahkan kamu dan saya bagai klausa yang kehilangan predikatnya.

Lintang, jika saat itu saya bisa memilih akhir untuk cerita kita. Saya ingin sekali memohon kepada semesta. Dari sekian juta sepasang hati yang tinggal di buminya….

Kenapa akhir tak bahagia itu harus jatuh kepada kita?

Satu tanda tanya itu selalu terngiang di kepala. Hingga suatu hari, saya kembali teringat tentang kita akan kota ini.

Kota yang katamu memiliki senja paling istimewa di antara kota yang lainnya; Kota yang pernah menemukan kita dalam satu cerita tawa; Kota yang juga pernah mengenalkan saya artinya sebuah bahagia.

Yogyakarta, dan segala cerita yang terlukis di dalamnya.

Kekasih? Masih ingatkah kamu dengan semua itu?

Tentang bagaiaman kita dipertemukan oleh kota ini dalam dua hal berbeda akan paradesenja. Entah waktu itu pada pekan raya patah rasa, atau hingga saya tahu sebuah festival manusia bernama jatuh cinta.

Lintang? Ternyata, sebagian besar dari perjalanan cerita saya ini tentang kamu. Iya, kamu. Kamu yang pernah menjadi bagian eloknya warna dalam kanvas saya; yang pernah menjadi bait-bait puisi indah dalam setiap pertemuan cerita.

Sebahagia itu saya pernah karena kamu, Lintang.

Sebahagia itu… saya dipertemukan semesta denganmu.

Namun, Kekasih? Mengenalmu… ternyata juga membuat saya tahu sebuah pustaka baru dari bahasa duka bernama lupa, lupa… bahwa di setiap kalimat bahagia, selalu diikuti oleh lawan katanya. Hitam dan putih itu ternyata memang benar adanya. Cahaya dan bayangannya selalu tersisip dalam setiap cerita milik manusia.

Dan lewat kota ini pula… dialah yang juga mengajarkan saya sesuatu perihal kita dan sebuah perjalanan.

Kamu tahu, Lintang?

Sama seperti halnya jingga,  yang setiap kala harus rela meninggalkan senja kesayangannya. Bahwa barangkali tujuan dari setiap pertemuan, untuk menyambut kembali kehadiran perpisahan.

Dan hari itu, mungkin sebentar lagi akan telah tiba untuk kita.

Lintang. Kamu tahu bukan, bagaimana perasaan ini tumbuh untuk kamu? Maka dari itu, dengan ini saya sampaikan padamu sebuah salam perpisahan, dengan segenap rasa bernama sayang, pun jua lengkap dengan senja-senja kesukaanmu yang selalu ingin kamu bawa pulang. Semoga dibaiknya waktu yang akan datang, saya doakan semoga tawamu selalu berumur panjang.

Lintang sayang, saya titipkan bumi yang indah ini… sama kamu, ya? Bilang sama sang langit, putra angkasanya ini… ingin pamit.

Bumi Yogyakarta, hari di mana jinggamu, yang kini perlahan mulai mengabu. 

Narajengga Alugara.

Separuh senja merah bata itu tahu hal ini akan terjadi, dan separuh senja itu pun juga kini ikut berduka untuk Lintang yang hatinya dipatahkan sekali lagi hari ini. Embun di pelupuk mata itu pun akhirnya kini berubah menjadi tangis yang tak bisa dibendung lagi.

Air mata itu benar-benar pecah di antara langit Yogyakarta yang terbelah begitu indah.

“Kenapa?! Kenapa, Tuhan?!” Gadis itu menangis hebat.

Pada akhir di dalam ceritanya, Lintang satu di antara jutaan hati yang kini kehilangan pemiliknya. Satu dari sekian bintang yang kehilangan sang binarnya.

Seorang pemuda yang sedari tadi berdiri di belakang Lintang itu mulai berjalan mendekat. Ragu yang terkumpul dalam raganya pun kini mulai melebur begitu cepat. Ia rengkuh perlahan tubuh gadis penuh luka kedalam sebuah dekapan yang begitu hangat. Dari menghapus sebuah sekat… hingga dua semoga itu kini bertemu begitu erat.

“Kalau Yogyakarta bisa membantu saya. Tolong bisikan pada saya, apa yang harus saya lakukan… untuk menghentikan tangisan kamu karena saudara saya?”

13 komentar untuk “Polesan #01 • Tiga Ribu Senja”

  1. Saya ingat betul, saya memiliki teman yang memiliki asma Lintang. Namun, alangkah terejutnya saya mengetahui bahwa dia laki-laki. Kala itu, saat saya berjabat tangan dengannya, terbesit ingatan tentang Tiga Ribu Senja. Amat senang lagi mengetahui, idolanya adalah idola saya juga. Eyang Sapardi dengan tuturnya “kepada angin yang menjadikannya abu.” Mas Nava, kisah-kisah yang Mas Nava tulis begitu membekas bagi semua yang membaca (mungkin, tapi sepertinya pasti). Terima kasih ya Mas Nava.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!