Polesan #02 • Kota dan Secangkir Rahasia

“Kita hanya sebatas perasaan ragu yang tak sengaja bertemu… lalu berharap kelak disemogakan waktu agar bisa bersatu.”

Satu kalimat yang sudah ia guratkan ketika waktu di pesawat itu akhirnya Lanang coret lagi pada selembar putih gading di buku catatan. Tangan kiri yang memegang ujung pena pun bahkan terus saja bergerak secara horizontal ke kiri dan ke kanan.

“Akan terlihat jelas ending-nya kalau aku tulis seperti ini, padahal cerita ini tak semua tentang perjalanan dari patah hati,” monolognya, lalu tiba-tiba benda tipis berona perak dan berengsel di sampingnya ia ambil. Sejeda selanjutnya jemari itu mulai menari kembali di atas papan tik dengan stabil.

Pemuda dengan hidung bangir itu hanya ingin menyampaikan sepenggal perasaan dari tokoh utama. Iya, setulus percakapan sederhana yang ingin ia sampaikan dari bibirnya, bukan mencari validasi bahwa semua perasaan harus mendapatkan balasan agar terlihat bahagia.

Bukan.

Karena cepat atau lambat, yang tak serasa juga akan menjelma seperti bayangan luka nan begitu dekat.

“Aku tahu, kamu sudah tiba pada sebuah waktu di mana kota itu terlalu kamu cintai lebih besar daripada aku. Begitu pula denganku ini, aku mencintai bagaimana kota ini telah merawat mimpiku sepunuh hati. Dari terbitnya fajar hingga benamnya surya kembali, Stanford menjelma bak belahan hati yang selalu kucari dan kunanti. Namun meskipun begitu, ke mana pun langkah ini beranjak pergi… kamu adalah pulang dari penantian yang sejati.”

Senyuman pemuda itu terpulas di sudut bibir setelah bergumam dengan pelan, netra yang bersembunyi di balik kacamata tersebut menatap bahagia ke arah layar dan tulisan, tak lupa jemarinya bahkan sudah bergerak bahagia selepas menari di atas papan tik pada benda perak berengsel dipangkuan.

“Selesai!” pungkas Lanang, begitu jari telunjuk itu menekan tombol enter pada notebooknya.

Sambil menautkan jemari, dua lengan itu langsung meregang di atas kepala beberapa kali. Sembari menguap panjang, raga yang berada di atas ranjang itu akhirnya ia lemaskan. Bangun dari jam lima pagi demi menyelesaikan deadline naskahnya, ternyata tak begitu terasa, padahal kalau melihat beker di atas nakas sekarang sudah pukul delapan lewat dua.

Sepertinya memang benar apa yang sering orang-orang di luar sana katakan, waktu adalah satu kata yang mampu menyihir sebuah kehidupan, bila dilalui dengan kebahagiaan. Misalnya seperti tadi yang sedang Lanang lakukan. Apa pun yang kita kerjakan bila itu menyenangkan, ia mampu menyilaukan kita hingga sering lupa dengan keadaan.

“Lanang Ing Jagat Nabastala?”

Dalam sekejap, kelopak mata milik sang pemuda menutup cepat. Lanang hafal, bila sang bunda sudah memanggil dia dengan nama lengkap, berarti tandanya status level dinaikan menjadi gawat.

“Ya, Bun?” jawabnya, ragu.

Cah bagos… itu sarapan kamu mau dicuekin sampai kapan? Sampai makanannya masuk sendiri ke dalam mulut kamu, ya?” Dari balik daun pintu, dengan nada khas jawa, Wulan sudah berseru. Sedangkan sudut bibir itu sudah terlukis sabit kurva yang tipis dari si bungsu. “Ingetkan Bunda sering bilang ap—”

“Sebuah raga diciptakan Tuhan sebegitu rupa untuk apa kalau bukan jadi rumah yang baik bagi sebuah jiwa? Kalau sarapan begini saja kamu sering terlambat, gimana jiwanya mau ikutan jadi sehat?” Di luar kamar sana, pemuda yang usianya terpaut lima tahun lebih tua dari Lanang sudah menyela. “Caraka dapat seratuskan, Bun?”

“Kamu ini. Oh, ya, Mas. Apa mending Bunda buang aja ya itu MacBook Adek kamu?” celetuk Wulan, meminta pendapat pada si sulung. “Bunda kadang heran, padahal baru kemarin dia datang jauh-jauh dari Palo Alto. Nggak capek apa ya adik kamu itu pacaran sama MacBook?”

Wulan kalau sudah mengeluarkan kalimat maha sakti mandragunanya. Cuma satu yang bisa Lanang lakukan dengan segera. Pemuda dengan kaus hitam dan celana tidur kotak-kotak itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Iya-iya, Lanang keluar sekarang.”

Namun sebelum raga sang pemuda berhasil beranjak pergi, kelopak mata itu ia kucek sebentar setelah Lanang mengangkat sedikit kacamata tersebut ke dahi. Barulah seduhan teh—yang jelas sudah kehilangan hangatnya—di nakas itu Lanang teguk sebentar. Sambil menyesap pelan minumanya ia hirup bagaimana harumnya lilin aroma dari manifestasi nuansa hutan itu menguar. Hingga akhirnya kaki jenjang itu melangkah lebih dulu keluar ke arah balkon di kamar.

“Ini baru yang namanya spring break.”

Senyuman itu akhirnya terlukis seteduh mega. Dari tatapannya di lantai tiga tempat ia berada, Lanang bisa melihat di depan mata.

Kau tahu apa yang terlihat di iris hitamnya semesta?

Jantung kota dari Austria selepas gerimis ini sudah mulai menari, kini langit yang cerah tanpa saputan awan pun sudah terlukis mengitari. Kota Wina selalu bisa menarik atensinya ketika malam atau pun sambutan pagi, apalagi sekarang sedang musim semi, padahal sudah hampir lima belas atau malah enam belas tahun ya ia tinggal di kota ini, sebelum akhirnya dua tahun lalu pemuda itu memutuskan pergi ke daratan California untuk jenjang pendidikan tinggi, tapi ternyata… rasa bosan itu sepertinya belum datang menghampiri.

Wina masih menjadi kota yang hangat di hatinya.

Lihatlah betapa eloknya salah satu kota musik di dunia ini. Lihatlah bagaimana udara sejuk mampu merangkul begitu hangat warganya tanpa henti. Tidak ada alasan bagi Lanang untuk tidak jatuh hati berulang kali dengan kota budaya ini.

Iya, kota yang mampu merefleksikan seni-seni rupa terbaik dari berbagai zaman. Kota dengan goresan arsitektur bagunan yang pandai melukiskan kejayaan abad pertengahan, hingga bisa berpadu rupa begitu seirama dengan modernnya sudut kehidupan urban. Wina benar-benar mampu menaklukkan jantung perasaan.

Guten Morgen!” teriak Lanang dengan spontan, berusaha menyapa wanita paruh baya yang membawa sebuket bunga di bawah sana—yang kini justru sedang membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.

Ini memang hanya sederhana, dari senyuman dan sapa bisa membuat senyawa bahagia menghangat di dalam raga. Rasa itu seolah membelah menjadi ribuan keping sel bahagia di ruang jiwa.

“Wina benar-benar menjadi wajah dari jatuh cinta.” Pemuda itu bergumam lagi. Namun kalau dipikir kembali, beruntung sekali Lanang sudah tumbuh di kota ini. Sudah diberi banyak sempat oleh semesta untuk terus memperbaiki diri—ya walaupun gagal sering terjadi.

Guten Morgen? Are you for real?” sindir Caraka, lengkap dengan tangan dan mimik wajah keheranan begitu Lanang keluar dari kamarnya.

“Kenapa, Mas Caraka mau disapa juga? Atau udah nggak pernah disapa lagi sama kesayangannya, ya?” Sambil membawa cangkir di tangan kirinya, si bungsu sudah menyindir balik yang lebih tua. Namun sebelum Caraka menyanggah juga, Lanang kembali berkata. “Eh tunggu, sial jadi pengen punya kesayangan juga.”

Yang lebih tua langsung menarik kata. “Kasihan. Memangnya dua tahun di antara tiga puluh dua kilometer persegi Stanford kamu nggak dapat pacar?” tanya Caraka, lebih tepatnya menusuk ruang rasa saudaranya, sedangkan tangan pemuda itu sudah melipat lengan kemeja. “Ah, baru inget! Percuma juga nyari, kalau pemenangnya nanti masih saja di kisah lima tahun lalu yang nggak mau pergi.”

“Singkong!”

Sambil menahan tawa Caraka bersuara. “Bener, kan?”

“Gini ya Masku yang lebih ganteng. Nggak usah khawatir sama kisah adek kamu ini. Setidaknya Lanang masih baik-baik aja, nggak seperti Mas Caraka. Sudah tinggi, badannya bagus, wajahnya lebih ganteng, isi kepalanya lebih pinter, bahkan skor JLPT aja nyaris sempurna, eh tapi kok di ujung cerita malah sering diselingkuhin, ya? Begitu dapat yang paling nyaman, eh… kok ditinggal pergi pulang ke Jep—”

Baru juga Caraka ingin melempar sepatunya. Sambil pergi, tawa itu sudah meledak dari manusia yang lebih muda. Seperti inilah memang kehidupan si dua bersaudara. Caraka yang akan selalu kalah dengan semua argumen dari bibir adiknya—kalau sudah menyangkut soal nasib asmara, meski ia sudah melawan sekuat tenaga.

“Masih mau ketawa, ya? Mau lihat MacBookmu dibelah jadi dua?!”

Tanpa suara, tangan kanan Lanang yang kosong itu langsung bergerak lagi dari kiri ke kanan di depan bibirnya. Tanda bahwa dia harus diam atau nasib kekasihnya itu bisa terbelah jadi dua.

“Tapi tumben jam segini udah rapi aja? Jangan-jangan…” Kepala Lanang langsung menoleh ke arah ruang makan. “Bunda… lihat, Mas Caraka udah punya pacar baru lagi.”

“Nggak papa, asal pacarnya Mas manusia, daripada kamu pacarannya sama benda mati.”

Anak yang lebih tua giliran puas tertawa. “Tuh dengerin. Jadi mendingan kamu tunggu di rumah aja, terus pacaran lagi sama MacBook kamu itu, and… behave yourselves, ok Adek Kecilku?” kekeh Caraka, lengkap dengan telapak tangan yang mengusap kepala adiknya.

“Jadi ingin berkata kasar, tapi ingat bayar denda Ibunda Wulan jauh lebih besar. Oke, hari ini Lanang akan bersabar,” ujar Lanang, sedatar jalanan trotoar.

Caraka yang melihat wajah masam Lanang benar-benar senang rasanya. Begitu pula Wulan yang sudah memperhatikan drama kecil keluarganya itu tersenyum bahagia.

Rasanya kangen juga sudah dua tahun dia tidak mendengar perdebatan kecil Bahasa Indonesia dari dua buah hatinya. Iya, dengan Bahasa Indonesia. Meski mereka lahir di Indonesia dan tumbuh di Wina, tapi karena Wulan yang setiap hari selalu membiasakan dengan kosa-kata bahasa ibu dan bacaan cerita nusantara, dua jagoanya itu tetap bisa fasih berbahasa dari asal negaranya. Jadi tidak heran, bila ada satu keluarga kecil di antara Wina, yang ributnya sudah seperti anak-anak di Indonesia.

Akhirnya hari ini rindu itu bisa menunaikan temunya juga.

“Sekarang Bunda jadi sering belain Mas Caraka, ya?”

“Bukan belain. Kan Bunda hanya menyampikan sebuah fakta,” jawab Wulan, menoleh ke arah bungsunya. “Kamu juga sudah tahu bukan pekerjaan, Bunda, itu seperti apa?”

Hari ini, kalah telak sudah yang lebih muda.

Langkah kaki pemuda itu akhirnya mendekat ke arah Wulan. “Ini juga. Tumben pagi-pagi begini Bunda udah di depan iPad? Ada meeting, Bun?”

“Enggak, cuma mau video call sebentar.”

Video call?” seru Lanang, begitu langkahnya berhenti di dekat Wulan dan meletakkan cangkirnya di atas meja makan. Mata kana pemuda itu langsung menyipit. “Sama pacar baru Bunda, ya?” goda si bungsu, lengkap dengan senyuman paling jahil sedunia.

Sedangkan wanita yang ditodong langsung menampilkan wajah berbunga. “Kalau iya kenapa? Iri ya kamu nggak punya pacar?”

“Tuhkan, Lanang lagi yang kena.”

“Kan tadi kamu duluan yang mulai,” kekeh Wulan, seraya menjewer sebentar telinga milik si bungsu. “Lagian, orang mau video call sama temen, dikira mau pacaran,” lanjutnya, langsung melihat ke layar iPadnya.

“Emang teman Bunda yang mana?” tanya Lanang, menyipitkan lagi matanya. “Pasti yang ganteng itu, ya?” ledeknya lagi, untuk kesekian kali.

“Iya, yang lebih ganteng dari kamu.”

“Menyebalkan.”

“Kamu, sih, orang jelas-jelas namanya aja Ayu Nawang,” ucap Wulan, menunjukkan sebuah nama di layar iPadnya. “Masa iya namanya perempuan mau dibilang ganteng?”

“Yakan siapa tahu, Bunda. Tapi memangnya Bunda punya teman yang namanya Nawang? Kok Lanang nggak tahu?”

“Dia teman lama Bunda waktu di Jogja. Kamu aja yang nggak inget sama Tante Nawang. Iya, kan?” Bola mata milik Lanang langsung bergerak ke sudut, mencari nama itu di berkas arsip kepalanya. “Ya mana mungkin juga kamu ingat, dulu kamu masih kecil. Ketemu juga cuma beberapa minggu aja. Dia itu yang dulu pernah ikut relawan sama Bunda waktu gempa bumi di Jogja.”

“Aaah….”

“Kamu inget?”

“Enggak.”

“Anak siapa, sih, kamu ini kok ngeselin banget?!”

Yang ditanya langsung senyum sempurna penuh dosa. “Hehe, yakan kalau di Palo Alto Lanang kangen nggak bisa ngusilin Bunda.”

“Memang, ya, orang kalau pandai nulis, pasti ada aja akal-akalannya kalau bikin alasan.”

“Ya salah siapa dulu dari kecil maksa Lanang buat nulis satu hari satu lembar. Jadi ginikan gedenya. Coba kalau dulu Bunda ngajarin Lanang merayu gadis-gadis. Dah punya pacar banyak kali Lanang seka—ahh! Iya-iya ampun, Ibundaku Tercinta,” rengek Lanang, begitu telingannya kembali dijewer sama sang bunda.

“Astaga! Kalian kenapa lucu sekali kalau lagi berantem?” Kompak, ibu dan anak itu menoleh ke arah sumber suara. Di dalam layar iPad sudah terlihat sebuah paras cantik di sana.

“Lho sudah terhubung dari tadi?” balas Wulan, langsung memperbaiki posisi duduknya. “Apa kabar sekarang Ibu Dokter satu ini?”

“Masih seperti dulu, kan? Cantik dan ceria.”

Wulan langsung tertawa pelan. “Dasar, makin tua ternyata makin gila juga ya narsisnya?”

“Ya mau gimana lagi. Udah bawaan lahir kayaknya ini, Wul, jadi dimaklumi aja, ya,” jawab Nawang, sambil tertawa kecil. “Kamu sendiri gimana di Austria? Kalau dilihat dari senyuman kamu, pasti baik juga, kan? Udah sepuluh tahun lebih keknya kita nggak sempat kontakan. Eh, sekalinya kontak, aduh hay makin awet muda aja Ibu Redaksi satu ini.”

“Oke, aku akui, emang paling bisa juga ya kamu ini kalau muji orang.”

“Tapi jangan lupa ya, satu pujian satu bungkus lupis ketan.”

Yang ditodong langsung tertawa. “Asem. Masih inget aja kamu kalau aku dulu sering beli lupis ketan.”

“Ya habis kebiasaanmu unik, sih, Wul, jadi ya nggak mudah buat aku lupain.” Perempuan dengan jas putih dari arah layar lantas melirik sang pemuda di sebelah Wulan. “Oh ya, itu yang di sebelah kamu….”

“Iya, dia anak yang waktu itu.”

Astaga dragon!”

“Ya ampun, Nawang plis?”

“Sori, Wul. Habis kaget juga, sih,” kekeh Nawang. “Nggak disangka, ternyata… kamu udah besar, ya?”s

“Tante inget Lanang?” Manusia yang dituju akhirnya menyela.

“Ya gimana Tante mau lupa juga. Orang dulu waktu kecil kamu pernah ngompol digendongan Tante.”

“Beneran, Tante?”

“Enggak, sih, bercanda,” jawab Nawang, tersenyum jahil. “Tapi kalau aku perhatiin manis banget loh, Wul, anak kamu ini, apalagi kalau pakai kacamata gini. Duh, jadi pengen tak jadiin mantu aja kalau begini.”

“Ampun! Emang bener kayaknya, dari dulu nggak berubah dokter satu ini. Matanya masih aja jeli kalau lihat yang manis sedikit,” jawab Wulan, menggelengkan sedikit kepalanya.

Akhirnya dua ibu yang sudah lama tak jumpa itu melepas tawa bersama. Gelombang rasa bahagia dan cerita lama dari kenangan masa-masa muda, kini bersua dalam satu pertemuan sederhana.

“Eh, tapi kalau dilihat-lihat lagi… aku jadi nggak asing sama wajah Lanang ya, Wul.” Tiba-tiba perempuan di dalam layar jadi teringat akan sesuatu. Lanang dan Wulan pun kini saling bertukar pandang, mereka jadi agak bingung juga sekarang.

“Nggak asing?” ulang Wulan.

“Astaga! Bentar, aku kayaknya masih punya fotonya, Wul.”

Dari anak detik pertama hingga berjalan ke menit berikutnya, perempuan di dalam layar itu masih sibuk mencari sesuatu di galeri ponselnya. Hingga beberapa jeda, wajah Nawang tiba-tiba menatap ke arah layar notebook dan ponselnya secara bergantian sambil tak percaya.

“Ya Tuhan. Wul, kamu pasti nggak akan percaya sama apa yang bakalan aku bilang ini.”

“Kenapa?”

“Aku kirim filenya ke email kamu, ya?”

Dalam hitungan menit pesan elektronik tiba-tiba masuk ke dalam surel. Dengan gesit, jemari Wulan membuka separuh layar iPadnya dengan pesan dari Nawang yang berisi sepotong gambar, dan sebuah kejutan rahasia yang membuat dua pasang mata itu melebar dengan sempurna.

“Bunda, Lanang nggak salah lihat, kan?” Di balik kacamata, jemari Lanang mengusap dua netranya. “Foto ini….” Suara Lanang mulai parau, kacamata yang bertenger di hidung akhirnya ia lepaskan.

Sedangkan di posisinya, Wulan sudah menutup mulut dengan dua telapak tangan. Ia palingkan wajahnya ke arah Lanang.

Lanang tahu kalau ia memang bukanlah anak kandung dari Wulan. Pemuda dengan netra sehitam arang itu pun juga menerima fakta itu dengan hati lapang. Karena ia percaya dengan baiknya semesta. Lewat Wulan ia diselamatkan dari tragedi gempa bumi yang pernah menghantam jantung pulau Jawa. Namun, Semesta… Lanang masih tak percaya dengan satu fakta baru dari sebuah gambar yang kini ia lihat di depan mata.

Sebuah rahasia yang sudah lama kota ini sembunyikan darinya.

Di dalam sana, ada foto sepasang manusia. Seorang perempuan bersanding pada laki-laki yang mengukir sabit rembulan dengan istimewa di sudut rupa. Namun, dari sekian tuju yang ada, kini atensi Lanang berhenti tepat pada foto sang pemuda dengan tatapan penuh bahagia.

Hati yang merapuh itu kembali terguncang tiba-tiba, tubuh tegapnya pun kini mulai meremang seketika.

Semesta, takdir apalagi ini yang engkau cipta?

“Lanang, kamu nggak papa?” panik Wulan, begitu melihat tubuh si bungsu mulai limbung tak beraturan.

“Bunda…,” ujar Lanang pelan, lengkap dengan senyuman tipis yang terlihat miris. “Ke—kenapa… kenapa ada wajah Lanang di sana?”

“Namanya… Narajengga Alugara. Anaknya murah senyum, Lanang. Kalau berbicara sama Tante, lembuuut sekali tuturnya. Tetapi….” Perkataan Nawang yang gemetar itu langsung berhenti, begitu perempuan di dalam layar itu memalingkan kepala dan menyeka air kedua mata. “Tiga tahun yang lalu. Tuhan menggambilnya kembali.”

Hujan itu tiba-tiba jatuh dari sudut netra. Bayangan kepedihan mulai berputar di kepala.

Hari ini, dari dua bola mata yang basah tersebut kini terlukis kabut begitu gelap. Terangnya perlahan mulai diambil alih oleh sang pekat. Tubuh yang tegap pun kini direnggut oleh rahasia yang begitu berat. Sampai akhirnya raganya jatuh terhempas di atas dinginnya pualam, dan luka baru yang kini hatinya dekap.

“Lanang!”

7 komentar untuk “Polesan #02 • Tiga Ribu Senja”

  1. Sepertinya kisah kepergian ini tidak asing bagi saya, meskipun masih di usia belia saya merasakan itu. Tetapi kosa kata bernama ‘kepergian’, sakitnya tak pernah menemui gagal untuk dirasakan. Saya mengucapkan bela sungkawa kepada Lanang yang bahkan tak sempat sedikitpun berbincang dengan Jengga, pedih sekali harus mengetahui seseorang yang berdarah sama dengannya telah pergi selamanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!